Kamis, 11 Februari 2010

Lotek & Gado-gado Colombo

Di Jogja memang ada banyak sekali warung lotek & gado-gado. Tapi dari sekian banyak warung lotek & gado-gado ada satu yang sangat amat termasyhur seantero Jogja, namanya Lotek & Gado-gado Colombo. Saking larisnya, di Jogja ada beberapa cabang yg penulis sendiri tidak hafal. Namun berikut ini ada 3 cabang yg bisa di pertanggungjawabkan bahwa mereka adalah cabang dari Lotek & Gado-gato Colombo. Lotek & Gado-gado Colombo yg pertama ada di tempat Pak Bagyo. Tempatnya di jalan Mozes Gatotkaca berdampingan dengan deretan kios ponsel. Disarankan untuk tidak datang pas jam makan siang karena pasti bakal ngantri panjang.

Yang kedua ada di Sagan, utara Galeria, deket sama Lembaga Indonesia Perancis (LIP). Untuk sampai ke sana Pertigaan utara Galeria Mall Yk ambil kiri. Setelah itu, sampai ke pertigaan pertama ambil kanan. Nah, bakal sampai di warung lotek & gado-gado "Colombo" juga. Sama dengan tempat pertama di jln Mozes, disarankan juga untuk tidak datang pas jam makan siang karena pasti bakal ngantri panjang.

Yang ke tiga ada di daerah Seturan sebelah timur UPN Condongcatur masuk gang dikit sekitar 50m dari jalan raya. Yang ketiga ini lumayan nggak ngantri. Sedangkan cabang-cabang yang lain belum diketahui pasti keberadaannya. hehehe

Lotek & Gado-gado Colombo menjadi pilihan mahasiswa dan sayurannya seger. Untuk minuman juga banyak pilihan. Juga tersedia menu ayam bakar. Untuk makanan lotek & gado-gado, warung ini buka antara pukul 08.00-17.00. Harga murah.

Rujak Es Krim Pakualaman


Pernah belum mencoba es puter? pernah? bagaimana dengan es puter campur rujak? Makanan yang terkenal dengan nama Rujak Es Krim Pakualaman ini bisa di bilang salah satu makanan khas Jogja juga selain gudher dan bakpia pathok. Disebut rujak es krim Pakualaman karena para penjualnya bisa kita temui di sekitar lingkungan kraton Pakualaman Jogja. Suasana kraton yang khas bisa kita nikmati sambil menyantap dingin dan segarnya rujak es krim ini.Tak usah khawatir saat selesai menikmati kuliner ini karena Anda hanya perlu menyisihkan 3000 rupiah dari kantong Anda untuk satu porsi. Inilah menariknya kuliner Jogja kita bisa menikmati kuliner yang khas dan enak dengan harga mahasiswa.

Kindai Jogja

Sebagai kota pelajar yang multikultural, kota Jogja tidak hanya menyediakan masakan Jogja saja. Di kota ini Anda akan sangat mudah menemui aneka ragam masakan dari seluruh penjuru Indonesia (seperti rujak jingur, pisang ijo, soto banjar, bebek betutu, dan bika ambon) atau bahkan dari mancanegara (seperti kebab, burger, dan steak). Di Jogja Anda bisa mencicipi dan memanjakan lidah Anda dengan berbagai macam makanan dengan harga yang terjangkau.

Salah satu tempat yang sangat laris yang menyediakan masakan khas luar Jogja adalah Kindai. Rumah makan yg berlokasi di jl. jembatan merah no.116D (dari Jln Gejayan) ini menyediakan masakan khas Banjar seperti soto banjar, nasi kuning banjar, nasi sop, ayam panggang, sate dll. Rumah makan ini selalu ramai pengunjung baik dari kalangan mahasiswa, pegawai, atau pun wisatawan. Selain karena sajiannya lezat, Kindai juga menjadi pilihan utama karena lokasinya yang strategis dan tempatnya yg nyaman. Harga yang di tawarkan juga sangat terjangkau bahkan untuk ukuran anak kos, berkisar pada Rp. 5000 - Rp. 15.000.
Jadi jika Anda berkunjung ke Jogja, jangan lupa mampir ke warung makan yang buka dari pagi sampai malam hari ini.

Rabu, 10 Februari 2010

Tugu Jogja




Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen ini berada tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta.

Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.

Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.

Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh. Bisa dikatakan, saat tugu runtuh ini merupakan keadaan transisi, sebelum makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu.

Keadaan benar-benar berubah pada tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.

Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Namun, melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, bisa diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.

Bila anda ingin memandang Tugu Jogja sepuasnya sambil mengenang makna filosofisnya, tersedia bangku yang menghadap ke tugu di pojok Jl. Pangeran Mangkubumi. Pukul 05.00 - 06.00 pagi hari merupakan saat yang tepat, saat udara masih segar dan belum banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang. Sesekali mungkin anda akan disapa dengan senyum ramah loper koran yang hendak menuju kantor sirkulasi harian Kedaulatan Rakyat.

Sore hingga tengah malam, ada penjual gudeg (masakan khas Yogyakarta) di pojok Jl. Diponegoro. Gudeg di sini terkenal enak dan harganya wajar. Anda bisa makan secara lesehan sambil menikmati pemandangan ke arah Tugu Jogja yang sedang bermandikan cahaya.

Akhir tahun 2010 lalu, Tugu jogja direnovasi. Renovasi yang dilakukan memang tidak merubah bentuk asli dari tugu itu sendiri, hanya berupa pengecatan ulang dan pelebaran halaman Tugu Jogja. Setelah direnovasi, tugu jogja yang tiap malam dijadikan lokasi untuk foto-foto oleh mahasiswa, pelajar, dan wisatawan kota Jogja terlihat semakin cantik dengan cat barunya. Selain itu tugu jogja terlihat sangat bersih dan nyaman untuk berfoto-foto karena pelebaran halaman tugu menjadikan kendaraan yang lalu lalang sedikit menjauhi tugu.

Begitu identiknya Tugu Jogja dengan Kota Yogyakarta, membuat banyak mahasiswa perantau mengungkapkan rasa senangnya setelah dinyatakan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja. Mungkin hal itu juga sebagai ungkapan sayang kepada Kota Yogyakarta yang akan segera ditinggalkannya, sekaligus ikrar bahwa suatu saat nanti ia pasti akan mengunjungi kota tercinta ini lagi.

(edited from www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism.../tugu-jogja/)

Batik Murah


Akhir-akhir ini, baju batik sedang populer di kalangan wanita, terutama remaja untuk pakaian sehari-hari dan juga pakaian kantor. Sebelumnya, batik lebih sering digunakan hanya untuk acara-acara resmi. Munculnya trend seperti ini bukanlah sesuatu yg harus di ributkan, misalnya saja dengan mempertanyakan kenapa hal ini bisa terjadi dan kenapa baru sekarang. Ambil saja positifnya bahwa sekarang ini bangsa kita termasuk remaja mulai sadar dan berperan aktif dalam melestarikan budaya bangsa.

Tren baju batik sepertinya akan bertahan lama terlihat dari antusiasme dan kebanggaan masyarakat yg semakin besar untuk terus berbatik. Di kantor saya saja, setiap hari selalu saja ada yang memakai batik walaupun tidak ada ketetapan dari kantor untuk memakai baju batik. Tentu saja ini pertanda baik bagi pedagang batik.

Pekalongan, Jogja, dan Solo tentu saja menjadi tujuan mencari baju batik. Selain pilihannya, harga yg batik di kota-kota tersebut juga relatif murah dibanding jika harus membelinya di Jakarta atau Bali. Bila anda hunting baju batik murah di Jogja, anda pasti langsung menuju ke kawasan Malioboro. Namun, sebenarnya masi banyak pusat batik lain yg bisa anda kunjungi untuk mendapatkan baju batik murah tanpa harus berdesak-desakan di kawasan Malioboro. Beberapa alternatif yang bisa Anda kunjungi yaitu Puspa Kencana di Jln, Gejayan (sebelah bengkel Handoyo) dan batik Yogya Kembali di Jl. Kha Dahlan no. 8. Atau anda bisa memesan batik dari toko batik online dari layar laptop anda misalnya di http://deutzyg.blogspot.com/ .

Sentra Gudeg Wijilan

Berbicara mengenai kuliner khas Indonesia, tentunya sajian khas kota Yogyakarta ini tak boleh terlewatkan. Sejak dulu Yogyakarta memang dikenal sebagai Kota Gudeg. Tak heran apabila terdapat sentra gudeg di kota ini, yaitu Sentra Gudeg Wijilan.

Sentra gudeg ini berada di Jalan Wijilan, terletak tepat di belakang plengkung Tarunasura yang juga dikenal sebagai plengkung Wijilan. Sekilas, memang tidak terlihat adanya sentra makanan khas Yogyakarta di balik plengkung tersebut. Sebatang plang bertuliskan “Sentra Gudeg Wijilan” menjadi penanda tunggal keberadaan satu-satunya sentra gudeg di kota ini.

Awalnya, Jalan Wijilan tidak didesain khusus sebagai sentra gudeg di Yogyakarta. Pada 1946, baru ada satu penjual gudeg di sepanjang jalan ini yang dikenal dengan nama Gudeg Bu Slamet. Kemudian, pada 1956 terdapat satu lagi penjual gudeg yang meramaikan Jalan Wijilan, yaitu Gudeg Yu Djum. Barulah setelah itu muncul penjual gudeg lainnya yang secara otomatis menunjukkan Jalan Wijilan sebagai sentra gudeg di Yogyakarta.

Saat ini terdapat sekitar 10 penjual gudeg di Jalan Wijilan. Banyaknya penjual yang menjajakan makanan yang sama tidak dilihat sebagai persaingan yang menyulitkan. “Di sini persaingan baik, semua sudah punya pelanggan masing-masing,” ujar Widodo yang sudah berjualan gudeg sejak 1994.

Harga untuk menikmati gudeg Wijilan ini cukup terjangkau. Untuk memperoleh sepiring nasi gudeg lengkap dengan lauk telur ayam atau daging ayam kampung, Anda cukup merogoh kocek 6 ribu hingga 20 ribu rupiah. Selain itu, terdapat pula sajian gudeg dalam besek dan kendil dengan harga yang bervariasi.

Selain untuk menikmati gudeg, Jalan Wijilan rupanya juga menjadi tempat kenangan tersendiri bagi orang-orang yang pernah akrab dengan kota Yogyakarta. Maka wajar apabila kunjungan ke Jalan Wijilan dimanfaatkan untuk bernostalgia, seperti yang diungkapkan Sudarmito, penerus usaha gudeg Bu Slamet. “Biasanya yang datang orang-orang yang dulu kuliah di Yogyakarta, mereka kan kenangannya di Wijilan,” ujarnya.

Oleh karena itu, sentra Gudeg Wijilan tetap menjadi pilihan tepat untuk berkunjung ke Yogyakarta. Jjika Anda tertarik untuk menikmati sajian khas dari Yogyakarta ini, pastikan Anda datang ke Jalan Wijilan antara pukul 06.00 hingga 21.00. Selamat mencicipi gudeg Wijilan!

(taken from http://bulaksumur-online.com/rona/115-wijilan-pusat-sajian-gudeg-yogyakarta.html)

Orregano Steak

Orregano Steak

Kalo jalan2 ke Jogja, jangan lupa mampir ke Orregano steak Jl. Gejayan sebelah barat jalan diantara Visitel n Circle K...,


Disana disediakan berbagai menu steak, termasuk favorite-ku Beef Orregano steak (dengan topping keju mozzarella). Minumnya bisa Milk Shake ato berbagai macam Juice ( I suggest you to try the Strawberry Juice... yummy)...

Masalah harga dijamin pas ma kantong... Steaknya mulai dari 9rb an...my fav beef orregano steak cuma 12,5 rb doang... Milkshake nya 6 rb n Juice2nya sekitar 4 rb an... Disana juga bisa pesen ice cream cone yg ueeenak bgt...Cuma 2000 perak...